Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 1 - TERBIS

Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 1

Spiritualitas dalam Musik dan Tarian



Spiritualitas dalam Musik dan Tarian

Allah Yang Maha Kuasa mencipatakan hati manusia, manusia bagaikan sebuah batu api. Ia menyimpan api yang akan berpijar-pijar bagaiakan musik dan harmoni, yang mampu memberikan ketenteraman kepadanya dan orang lain. Harmoni yang dinikmati manusia merupakan gema dari keindahan dunia yang lebih tinggi, yang kita sebut dunia ruh. Ia mengiingatkan bahwa manusia terhubung dengan dunia itu, dan membangkitkan emosi yang sedemikian dalam dan asing dalam dirinya sehingga ia sendiri tak kuasa menjelaskannya. Musik dan tarian sangat dalam memengaruhi keadaan hati manusia; ia menyalakan cinta yang tertidur dalam hati, cinta yang bersifat duniawi dan indriawi, maupun yang ilahi dan ruhani.



Para teolog bersilang pendapat mengenai kebolehan musik dan tarian dalam aktivitas keagamaan. Mazhab Zahiriah berpendapat bahwa Allah SWT sama sekali tak dapat dipersepsi manusia. Mereka menolak kemungkinan manusia bisa benar-benar merasakan cinta kepada Allah. Bagi mereka, manusia hanya bisa mencintai makhluk. 


Baca Juga : Pembantu Yang Aneh


Cinta yang diyakini sebagian manusia sebagai cinta kepada Sang Khalik hanyalah proyeksi dari rasa cintanya kepada makhluk atau sekadar bayang-bayang yang tercipta oleh khayalannya. Musik dan tarian, menurut mereka, hanya berurusan dengan cinta kepada makhluk dan karenanya, haram dipergunakan dalam kegiatan keagamaan. Jika kita tanya mereka, apa arti “cinta kepada Allah” yang diperintahkan syariat, mereka menjawab bahwa hal itu berarti ketaatan dan ibadah. 



Untuk saat ini cukuplah jika kita katakan bahwa musik dan tarian tidak memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dalam hati, tetapi ia hanya membangunkan emosi yang tertidur. Karena itu, jika yang dibangkitkan adalah cinta kepada Allah yang sangat dianjurkan syariat musik dan tarian boleh dipergunakan, bahkan dianjurkan. Sebaliknya, jika yang memenuhi hatinya adalah nafsu duniaiwi, musik dan tarian hanya akan memperburuk keadaannya sehingga keduanya terlarang. 


Hukum keduanya menjadi mubah jika dimaksudkan semata untuk hiburan. Kenyataan bahwa musik dan tarian menenteramkan hati tidak lantas membuatnya haram, sebagaimana mendengarkan nyanyian burung, atau melihat rumput hijau dan air yang mengalir. Bahkan kita mendapati sebuah hadis sahih dari Sayidah Aisyah r.a. mengenai kebolehan musik dan tarian yang dipergunakan semata-mata sebagai hiburan: 

"Pada suatu hari raya, beberapa Arab Negro menari di masjid. Nabi berkata kepadaku, “Apakah kau ingin melihatnya?” Aku jawab,“Ya.” Lantas aku diangkatnya dengan tangannya sendiri yang dirahmati, dan aku menikmati pertunjukan itu sedemikian lama sehingga lebih dari sekali beliau berkata, “Belum cukup?” 



Hadist lain dari Sayidah Siti Aisyah RA adalah sebaigai berikut: 
Pada suatu hari raya, dua orang gadis datang ke rumahku dan mulai bernyanyi dan menari. Nabi masuk dan berbaring di sofa sambil memalingkan mukanya. Tiba-tiba Abu Bakar RA masuk dan melihat gadis-gadis itu bermain, berseru: “Bah! Seruling setan di rumah Nabi!” Mendengar perkataannya Nabi menoleh dan berkata: “Abu Bakar, biarkan mereka ini hari raya.”

Memang banyak terjadi musik dan tarian membangkitkan nafsu setan dalam diri manusia. Namun kita juga mendapati musik dan tarian yang justru membangkitkan kebaikan, misalnya nyanyian jemaah haji memuji keagungan Baitullah di Mekah sehingga banyak orang yang terdorong untuk pergi haji; atau musik dan nyanyian yang membangkitkan semangat perang para pejuang untuk memerangi kaum kafir; atau musik pilu yang membangkitkan kesedihan orang yang telah berbuat dosa sehingga iamenyadari kesalahannya; atau musik yang dimainkan di walimah arusy, khitanan, atau untuk menyambut kedatangan seseorang dari perjalanan jauh. Semua jenis musik dan tarian seperti itu halal dan dibolehkan. Nabiyullah Daud AS pun bernyanyi dan memainkan alat musik untuk memuji dan mengagungkan Allah. Nyanyian yang termasuk diharamkan adalah nyanyian dipekuburan yang hanya menambah kesedihan setelah peristiwa kematian. Allah berfirman, “Jangan bersedih atas apa yang hilang darimu.”


Kini, mari kita bahasa musik dan tarian yang dipergunakan dalam aktivitas keagamaan. Para sufi memanfaatkan musik untuk membangkitkan cinta yang lebih besar kepai da Allah dalam diri mereka. Berkat bantuan musik mereka sering mendapatkan visi dan gairah ruhani. Dalam keadaan seperti ini hati mereka menjadi sebersih perak yang dibakar dalam tungku, dan mencapai suatu tingkat kesucian yang tak akan pernah bisa dicapai melalui laku prihatin. 

Mereka semakin menyadari keterkaitan mereka dengan dunia ruhani sehingga perhatian pada dunia secara bertahap sirna, bahkan kadang-kadang kesadaran indriawi mereka hilang.

Meski demikian, para calon sufi dilarang ikut ambil bagian dalam tarian mistik ini tanpa bantuan pir (syekh atau guru)nya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 1"

Post a Comment