Kesempurnaan manusia tercapai jika cinta kepada Allah SWT memenuhi dan menguasai hatinya. Seandainya cinta kepada Allah SWT tidak sepenuhnya menguasai hati, setidaknya ia menjadi perasaan paling dominan, mengatasi kecintaannya kepada selain Dia. Tentu saja, kita sulit mencapai tingkatan cinta kepada Allah. Tak heran jika sebuah mazhab kalam sama sekali menyangkal kenyataan bahwa manusia bisa mencintai suatu wujud yang bukan spesiesnya. Mereka mengartikan cinta kepada Allah SWT hanya sebatas ketaatan kepada-Nya. Orang yang beri pendapat seperti itu sesungguhnya tidak mengetahui apa makna agama yang sebenarnya.
Seluruh muslim sepakat bahwa mereka wajib mencintai Allah SWT, sebagaimana firman-Nya tentang sifat kaum beriman: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya,” dan sabda Nabi saw., “Sebelum seseorang mencintai Allah dan Nabi-Nya melebihi cintanya kepada yang lain, imannya tidak benar.” Ketika malaikat maut datang menjemput, Nabi Ibrahim berkata, “Pernahkah kau melihat seorang sahabat mengambil nyawa sahabatnya?” Allah menjawab, “Pernahkah kau melihat seorang kawan yang tidak suka melihat kawannya?” Maka Ibrahim pun beri kata, “Wahai Izrail, ambillah nyawaku!” Doa berikut ini diajarkan oleh Nabi saw. kepada para sahabatnya:
Seluruh muslim sepakat bahwa mereka wajib mencintai Allah SWT, sebagaimana firman-Nya tentang sifat kaum beriman: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya,” dan sabda Nabi saw., “Sebelum seseorang mencintai Allah dan Nabi-Nya melebihi cintanya kepada yang lain, imannya tidak benar.” Ketika malaikat maut datang menjemput, Nabi Ibrahim berkata, “Pernahkah kau melihat seorang sahabat mengambil nyawa sahabatnya?” Allah menjawab, “Pernahkah kau melihat seorang kawan yang tidak suka melihat kawannya?” Maka Ibrahim pun beri kata, “Wahai Izrail, ambillah nyawaku!” Doa berikut ini diajarkan oleh Nabi saw. kepada para sahabatnya:
“Ya Allah, berilah aku kecintaan kepada-Mu dan kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan segala yang membawaku lebih dekat kepada cinta-Mu. Jadikanlah cinta-Mu lebih berharga bagiku daripada air dingin bagi orang yang kehausan.”Hasan al Basri sering berkata, “Orang yang mengenal Allah akan mencintai-Nya dan orang yang mengenal dunia akan membencinya.”
Baca juga : Siapa Yang Mengenal Dirinya dia Mengenal Tuhannya
Sekarang kita akan membahas sifat cinta. Cinta bisa didefinisikan sebagai suatu kecenderungan kepada sesuatu yang menyenangkan. Contoh yang paling jelas tampak pada panca indra kita. Masing-masing indra mencintai sesuatu yang membuatnya senang. Mata mencintai pemandangan yang indah, telinga mencintai musik dan suara yang merdu, dan seterusnya. Jenis cinta seperti ini juga dimiliki hewan. Tetapi manusia punya indra keenam, yakni persepsi, yang tertanam dalam hati dan tak dimiliki hewan. Fakultas persepsi membuat kita menyadari keindahan dan keunggulan ruhani. Karena itulah seseorang yang hanya mengenal kesenangan indriawi tidak akan bisa memahami maksud Nabi saw. ketika menyatakan bahwa ia menicintai salat melebihi cintanya pada wewangian dan wanita. Sebaliknya, orang yang mata hatinya telah terbuka untuk melihat keindahan dan kesempurnaan Allah SWT pasti akan meremehkan semua penglihatan luar meski semua itu tampak indah di mata.
Manusia yang hanya mengenal kesenangan indriawi akan mengatakan bahwa keindahan ada pada rupa yang warna-warni, keserasian anggota tubuh, dan seterusnya, namun tak bisa melihat keindahan moral yang dimaksudkan oleh orang-orang ketika mereka membicarakan seseorang yang bertabiat baik. Tetapi menurut orang yang punya pandangan lebih dalam, kita dapat mencintai orang-orang besar yang telah mendahului mereka, seperti Khalifah Umar dan Abu Bakar, yang memiliki karakter mulia meski jasad mereka telah bercampur debu. Cinta seperti itu tidak melihat bentuk luar, tetapi mencermati sifat-sifat ruhani. Bahkan ketika kita ingin membangkitkan rasa cinta seorang anak kepada orang lain, kita tidak menguraikan keindahan tubuhnya, tetapi keunggulan moralnya.
Jika prinsip ini kita terapkan untuk kecintaan kepada Allah, kita akan mendapati bahwa hanya Dia satu-satunya yang pantas dicintai. Seseorang yang tidak mencintai Allah SWT berarti tak mengenali-Nya. Karena alasan inilah kita mencintai Muhammad SAW., nabi dan kekasih-Nya. Cinta kepada Nabi saw. berarti cinta kepada Allah. Begitu pula, cinta orang yang berilmu dan bartakwa sesungguhnya merupakan cinta kepada Allah. Kita akan memahami hal ini lebih jelas kalau kita membahas faktor-faktor yang membangkitkan cinta kepada Allah.
Faktor pertama adalah bahwa manusia selalu mencintai dirinya dan kesempurnaan sifatnya. Ini mengantarkannya langsung menuju cinta kepada Allah, karena keberadaan manusia dan sifat-sifatnya tak lain adalah anugerah Allah. Kalau bukan karena kebaikan-Nya, manusia tidak akan pernah muncul dari balik tirai ketiadaan ke dunia kasat mata ini. Pemeliharaan dan pencapaian kesempurnaan manusia juga sepenuhnya bergantung kepada kemurahan Allah. Sungguh aneh, ada orang yang berlindung dari panas matahari di bawah bayangan sebuah pohon tetapi tidak mensyukuri pohon itu sumber bayangan yang tanpanya pasti tak akan ada bayangan sama sekali. Kalau bukan karena Allah, manusia tidak akan ada dan tidak akan punya sifat-sifat. Karenanya, setiap orang pasti dan mesti mencintai Allah, kecuali orang-orang yang tidak mengetahui-Nya. Mereka tak bisa mencintai-Nya, karena cinta kepada-Nya memancar langsung dari pengetahuan tentang-Nya. Dan sejak kapankah orang yang bodoh punya pengetahuan?
Faktor kedua adalah cinta manusia kepada pendukungnya, dan sesungguhnya yang senantiasa mendukung dan membantu manusia hanyalah Allah. Sebab, kebaikan apa pun yang diterimanya dari sesama manusia pada hakikatnya disebabkan oleh dorongan langsung dari Allah. Motif apa saja yang menggerakkan seseorang memberi kebaikan kepada orang lain, apakah itu keinginan untuk mendapat pahala atau nama baik, sesungguhnya digerakkan oleh Allah.
Faktor pertama adalah bahwa manusia selalu mencintai dirinya dan kesempurnaan sifatnya. Ini mengantarkannya langsung menuju cinta kepada Allah, karena keberadaan manusia dan sifat-sifatnya tak lain adalah anugerah Allah. Kalau bukan karena kebaikan-Nya, manusia tidak akan pernah muncul dari balik tirai ketiadaan ke dunia kasat mata ini. Pemeliharaan dan pencapaian kesempurnaan manusia juga sepenuhnya bergantung kepada kemurahan Allah. Sungguh aneh, ada orang yang berlindung dari panas matahari di bawah bayangan sebuah pohon tetapi tidak mensyukuri pohon itu sumber bayangan yang tanpanya pasti tak akan ada bayangan sama sekali. Kalau bukan karena Allah, manusia tidak akan ada dan tidak akan punya sifat-sifat. Karenanya, setiap orang pasti dan mesti mencintai Allah, kecuali orang-orang yang tidak mengetahui-Nya. Mereka tak bisa mencintai-Nya, karena cinta kepada-Nya memancar langsung dari pengetahuan tentang-Nya. Dan sejak kapankah orang yang bodoh punya pengetahuan?
Faktor kedua adalah cinta manusia kepada pendukungnya, dan sesungguhnya yang senantiasa mendukung dan membantu manusia hanyalah Allah. Sebab, kebaikan apa pun yang diterimanya dari sesama manusia pada hakikatnya disebabkan oleh dorongan langsung dari Allah. Motif apa saja yang menggerakkan seseorang memberi kebaikan kepada orang lain, apakah itu keinginan untuk mendapat pahala atau nama baik, sesungguhnya digerakkan oleh Allah.
Baca Juga : Bukti Islam Masuk Ke Indonesia
Faktor ketiga adalah perenungan terhadap sifat-sifat Allah, kekuasaan, dan kebijakan-Nya. Kekuasaan dan kebijakan manusia hanyalah cerminan paling lemah dari kebijakan dan kekuasaan-Nya. Cinta seperti ini mirip dengan cinta kita kepada orang-orang besar di masa lampau, seperti Imam Malik dan Imam Syafi‘i meski kita tak pernah berharap mendapat keuntungan dari mereka. Inilah cinta yang tanpa pamrih. Allah berfirman kepada Nabi Daud, “Hamba-Ku yang paling mencintai-Ku adalah yang tidak mencari-Ku karena takut dihukum atau mengharapkan pahala. Ia mencari-Ku hanya untuk membayar hutangnya kepada ketuhanan-Ku.” Dalam Alkitab tertulis: “Siapakah yang lebih kafir daripada orang yang menyembah-Ku karena takut neraka atau mengharap surga? Jika tidak Kuciptakan keduanya, tidak pantaskah Aku untuk disembah?”
Faktor keempat adalah adanya “kemiripan” antara manusia dan Allah. Inilah makna sabda Nabi saw.: “Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya.” Dan dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: “Hamba-Ku mendekat kepada-Ku sehingga Aku menjadikannya sahabat-Ku. Lantas, Aku menjadi telinganya, matanya, dan lidahnya.” Dan Allah berfirman kepada Musa as.: “Aku sakit tetapi engkau tidak menjengukku!” Musa menjawab,
“Ya Allah, Engkau adalah penguasa langit dan bumi, bagaimana mungkin Engkau sakit?” Allah berfirman, “Salah seorang hamba-Ku sakit. Dengan menjenguknya berarti kau telah mengunjungi-Ku.”Memang tema ini agak riskan diperbincangkan karena berada di luar pemahaman orang awam. Orang yang cerdas sekalipun tersandung ketika membicarakan masalah ini sehingga mereka meyakini adanya inkarnasi dan persatuan dengan Allah. Meski demikian, kemiripan antara manusia dan Allah menjawab keberatan teolog Zahiriah yang berpendapat bahwa manusia tidak bisa mencintai wujud yang bukan dari spesies dari dirinya. Betapa pun jauh jarak yang memisahkan keduanya, manusia bisa mencintai Allah karena kemiripan yang diisyaratkan dalam sabda Nabi: “Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya.”
Selanjutnya Baca : Melihat Allah


0 Response to "Mencintai Allah SWT di Atas Segalanya"
Post a Comment