Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 3 - TERBIS

Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 3



Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 3

Ada fenomena lain dalam tarian mistik yang mungkin di mata sebagian orang tampak sebagai perilaku menyimpang, yakni sebagian sufi yang menari histeris sehingga ia melukai diri sendiri dan mengoyak-koyak pakaiannya. Jika perilaku itu murni sebagai hasil dari keadaan ekstase, tak ada alasan untuk menentangnya. Namun jika laku ini muncul dari seorang yang sok ahli, ia layak dikecam karena hal itu hanyalah gambaran kemunafikan. Dalam berbagai hal, orang yang disebut ahli adalah yang mampu mengendalikan diri hingga ia merasa wajib untuk menyalurkan segenap perasannya. Diriwayatkan bahwa seorang murid Syekh Junaid, ketika mendengar sebuah nyanyian dalam sebuah halaqah sufi, tak bisa menahan diri sehingga mulai memekik ekstatik. Junaid berkata kepadanya, “Sekali lagi kau bertingkah seperti itu, kau harus pergi dari hadapanku.” Setelah kejadian itu, si murid berusaha menahan diri hingga suatu ketika emosinya begitu kuat terbangkitkan. Dorongan itu menekannya dengan sangat keras sehingga tanpa sadar ia memekik keras dan kemudian mati. 


Baca Juga : Engkau Yang Menggenggam Jiwa Ku


Kesimpulannya, setiap orang yang menghadiri halaqah sufistik seperti itu harus memperhatikan tempat dan waktu. Orang yang berniat busuk tak patut hadir di sana. Setiap hadirin mesti duduk berdiam diri, tidak saling melihat, menundukkan kepala seperti dalam salat dan memusatkan pikiran hanya kepada Allah. Setiap orang mesti mewaspadai segala sesuatu yang mungkin terilintas dalam hatinya, dan tidak melakukan sedikit pun gerakan yang bersumber dari rangsangan diri sadar. Tetapi jika ada seseorang di antara mereka yang bangkit dalam keadaan ekstase murni, segenap orang yang hadir mesti bangkit bersamanya, dan jika ada sorban seseorang yang jatuh, orang lain pun mesti meletakkan sorbannya.



Meski ini merupakan fenomena baru dalam Islam yang tidak ada contohnya dari para sahabat, mesti kita ingat bahwa yang diharamkan hanyalah segala sesuatu yang secara langsung bertentangan dengan syariat. Sebagai contoh salat Tarawih. Kita samai sama mengetahui bahwa salat ini dilembagakan pertama kali oleh Khalifah Umar.

Nabi saw. bersabda, “Hiduplah dengan setiap orang sesuai dengan kebiasaan dan wataknya.” Karena itu, kita boleh mengerjakan hal-hal tertentu untuk menyenangkan seseorang, karena sikap tidak bersahabat akan menyakitkan hati mereka. Memang benar bahwa para sahabat tidak terbiasa berdiri saat Nabi saw. memasuki ruangan karena mereka tak menyukai kebiasaan ini; tetapi di daerah-daerah tertentu yang punya nafsu, tobat, dan sebagainya. Keadaan spiritual seperti itu sering kali dicapai tidak hal nya melalui lantunan ayat-ayat Al Quran, tetapi juga melalui lantunan syair-syair romantis. Sebagian orang keberatan terhadap pembacaan syair pada kesempatan-kesempatan seperti itu. 


Hanya Alquran yang layak dibacakan dalam aktivitas keagamaan. Tetapi mesti diingat bahwa tidak seluruh ayat Alquran dimaksudkan untuk membangkitkan emosi misalnya, perintah bahwa seorang laki-laki mesti mewariskan seperenam hartanya untuk ibunya dan seperduanya untuk saudara perempuannya, atau perintah bahwa seorang janda mesti menunggu empat bulan sebelum menikah lagi dengan orang lain. Sangat sedikit orang dan mesti orang yang sangat peka yang dapat tenggelam ekstatik mendengar lantunan ayat-ayat seperti itu. 



Alasan lain yang membenarkan pembacaan syair, selain ayat-ayat Alquran, dalam kesempatan-kesempatan seperti ini adalah bahwa orang-orang telah begitu akrab dengan Alquran, bahkan banyak orang yang hafal sehingga akibat terlalu sering diulangi kebiasaan seperti ini, kita mesti mengikuti kebiasaan mereka karena sikap yang tidak bersahabat hanya akan menimbulkan kebencian. Setiap bangsa punya kebudayaan dan tradisinya masing-masing. Budaya Arab tentu berbeda dengan budaya Persia. Hanya Allah yang mengetahui mana yang paling baik.

Dunia ini seperti sebuah meja yang terhampar bagi tamu-tamu yang datang dan pergi silih berganti.Di sana disediakan piring-piring emas dan perak, makanan dan wewangian yang berlimpah. Tamu yang bijaksana makan sesuai kebutuhannya,menghirup wewangian, berterima kasih kepada tuan rumah, lalu pergi.






Wallahu 'alam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 3"

Post a Comment