Di sebuah kampung, hidup sebuah keluarga yang pas-pasan. Tiap pagi sang suami bekerja di ladang, hingga sore hari.
Selepas Isa, sang suami selalu keluar rumah mengunjungi dan berada di tempat maksiat, dihabsikan waktunya sampai subuh tiba di tempat yang didalamnya sangat kental dengan judi, mabuk, main perempuan.
Semua penduduk kampung tau kelakuan suami keluarga ini, penduduk tau bahwa suami keluarga ini tiap malam ada di tempat maksiat. Orang kampung mengenalnya dengan sebutan Ngapdul
Hingga saat itu tiba, Ngapdul meninggal, semua penduduk kampung tau meninggalnya Ngapdul.
Tidak ada kentongan kematian, tidak ada bendera kuning, tidak ada satu orang pun penduduk kampung melayat Ngapdul, apalagi mensholatkan.
Sementara, Istri Ngapdul, Sarifah dan anak anaknya yang masih kecil menunggui mayat yang terbujur kaku, tanpa orang yang melayat. Dirumahnya Ngapdul tidak ada memiliki makanan, dibalai rumah hanya ada tikar lusuh tempat terbujurnya mayat Ngapdul.
Kepedihan Sarifah semakin menjadi-jadi karena hari semakin siang mayat suaminya belum kunjung ada yang membantu untuk sekedar memandikan apalagi sampai menguburkan. Penduduk kampung tak ada satupun yang datang.
Hingga Sarifah mengeluh
"Demi Allah, tidak ada tuhan yang wajib aku sembah kecuali Engkau, Ya Allah. Engkau yang menegakan keadilan,
sungguh para malaikat dan orang yang berilmu bersumpah atas Mu,
tidak ada yang wajib disembah kecuali Engkau.
Ya Allah Engkau Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana,
aku bersumpah, Engkau adalah sesembahan ku, dan Islam agama ku.
Ya Allah, Engkau yang mempunyai kerajaan,
Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki,
dan Engkau cabut kerajaan dari orang Engkau Kehendaki,
Engkau hinakan yang Engkau kehendaki.
Ya Allah, ditangan Engkau segela kebajikan.
Sungguh Engkau maha Kuasa atas segalanya.
Ya Allah, Engkau masukan malam ke dalam siang,
Engkau masukan siang ke dalam malam.
Ya Allah, engkau keluarkan yang hidup dari yang mati,
dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.
Ya Allah, Engkau beri rizeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa Batas.
Ya Allah, bagaimana dengan jenajah suamiku, aku yang lemah mengadukan ini pada Mu,Dalam duka dan kepedihan, tiba tiba pintu rumah terdengar ketukan, sarifah pun beranjak untuk membukakan pintu, hingga terdengar
Ya Allah, apakah aku buang jenajah suamiku di sungai depan rumah ku, atau aku biarkan membusuk.
Ya Allah, Engkau Yang Maha Bijaksana,
Engkau Yang Maha Luas rohmat Mu,
Berilah petunjuk kepada ku"
"Assalamu'alaikum wahai sarifah,... " laki-laki tampan dan gagah yang diikuti oleh beberapa orang berjubah dan bersorban mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam" Sarifah kaget dan bahagia sekali, melihat yang datang adalah orang yang sangat dihormatai dan dicintai, seorang kekasih Allah, seorang wali Allah, anak-anak sarifah pun berhamburan mencium dan memeluk lelaki ganteng dan gagah itu.
"Kapan tuan guru datang, sebab sungguh jauh tempat tuan dengan rumah kami", Sarifah menanyakan kepada Tuan guru. Rumah Sarifah ditempuh sekitar 3 hari perjalanan dari rumah kekasih allah ini.
"Allah yang memudahkan..."Jawab sang wali.
Tetangga Sarifah pun kaget melihat yang datang dan melayat adalah orang yang selama ini begitu dihormati dan diketahui sebagai wali allah, hingga tersiar sampai pelosok kampung, berdatangan lah penduduk kampung itu, meraka kaget dan tidak percaya orang yang mulia ini mendatangi dan melayat Ngapdul, yang mereka tau selama ini sehari harinya ada di tempat maksiat.
Dalam kaget dan rasa heran salah satu penduduk kampung bertanya
"Wahai Tuan Guru, maafkan kami kalau lancang", sambil tertunduk bertanya pada sang wali Allah. "Tuan Guru, Ngapdul sehari harinya, judi, mabuk, dan selalu ada duduk dimeja tempat maksiat",
Sang Wali allah bertanya kepada penduduk kampung , sambil tersenyum
"Apakah kalian tau betul, dan melihat sendiri, bahwa Ngapdul judi, mabuk, atau hanya duduk saja tanpa judi, dan mabuk",
Sang wali sambil tersenyum menebar kasih sayangnya meneruskan
"Beliau ini yang kalian lihat tiap hari ada ditempat maksiat, adalah dzuriat Rosul Mohammad SAW",
"Beliau ini, yang menyangga bala dikampung ini, selama ini",
"Beliau yang tiap malam terjaga, saat kalian tidur,"
"Beliau yang tiap malam sholat tahajud, yang selalu mendoakan kalian, yang hampir tidak pernah berdoa dan memohon kepada Allah untuk dirinya"
"Beliau juga yang rela tiap malam berdzikir ditempat perjudian, memohon kepada Allah, agar mereka yang judi, yang mabuk, dan maksiat lainnya, agar diampuni dan disadarkan"
"Tapi kalian tidak tau, sebab yang kalian tau adalah pandangan dhohir, Beliau tidak terkenal dalam pandangan masyarakat dunia, padahal Beliau sangat terkenal di Langit"
Tiba-tiba terjadi sesuatu yang sangat luar biasa, penduduk kampung menjerit dan menangis, yang biasa judi sujud memohon ampunan dari Allah SWT, dari mulut mereka keluar suara pujian atas kerinduan pada Sang Kekasih Allah Mohammad SAW.
"Ya Nabi Salam 'alaika, Ya Rasul Salam 'alaika
Ya Habib salam 'alaika, sholawatullah 'alaika"
Tidak berlangsung lama, semua penduduk kampung berlomba-lomba dan bekerja bersama sama untuk mengurus jenajah Ngapdul, dimandikan, dikafani, kemudian di kuburkan, sambil tidak henti-hentinya mereka menyebut
"Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah, Muhammadarrulullah", hingga proses pemakaman selesai, mereka pulang dengan wajah bahagia, memancarkan cahaya kemulyaan.
Kemudian Hujan pun turun, sebelum penduduk kampung pulang ke rumah masing-masing sang wali berkata;
"Wahai saudara-saudaraku se Iman, jangan sekali-kali kalain berkelakuan seperti itu, membiarkan jenajah, walau bagaimanapun dhohirnya, walau bagaimanapun kondisi saat hidupnya, berbaik sangkalah dengan makhluk Allah SWT",
"Dan berhati-hatilah, apalagi kalau dia adalah dzurriyah Sayidil Wujud Baginda Rosul Mohammad SAW, ",
"Kalau tadi tetep kalian biarkan, sampai Sarifah sakit hati, tenggelam lah kampung kalian, sangat Murka Baginda Rosul Mohammad, maka murka pula Allah SWT"
Kemudian sang wali pun pamit pada Sarifah dan penduduk kampung, sambil meninggalkan beberapa bingkisan untuk sarifah.

0 Response to "Dia Yang Bersembunyi dan Menghinakan Diri"
Post a Comment