Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 2 - TERBIS

Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 2

Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 2

Diriwayatkan bahwa Syekh Abu Qasim ali Jurjani, ketika seorang muridnya minta izin untuk ambil bagian dalam tarian semacam itu, berkata, “Jalani puasa yang ketat selama tiga hari, kemudian suruh orang lain memasak makanan yang menggiurkan. Jika setelah itu kau masih lebih menyukai tarian itu, kau boleh ikut. ” Bagaimanapun, seorang murid yang hatinya belum sepenuhnya teri sucikan dari nafsu duniawi meski pernah mendapat penglihatan ruhani mesti dilarang oleh syekhnya untuk ambil bagian dalam tarian mistik semacam itu karena hanya akan mendatangkan mudarat ketimbang maslahat. 



Orang yang menolak hakikat ekstase (kegairahan) dan pengalaman spiritual para sufi sebenarnya menunjukkan kesempitan pikiran dan kedangkalan wawasan mereka. Namun, maafkanlah mereka. Mempercayai sesuatu yang belum pernah dialami sendiri sama sulitnya dengan seorang buta mempercayai keindahan taman, rumput hijau, atau air yang mengalir, atau seorang anak untuk memahami nikmatnya kekuasaan. Seorang bijak, meski ia sendiri tak pernah mengalami keadaan spiritual seperti itu, tak akan menyangkal hakikatnya. Sebab, kesalahan apa lagi yang lebih besar daripada orang yang menyangkal hakikat sesuatu hanya karena ia sendiri belum mengalaminya! Alquran mengecam orang-orang seperti ini: “Orang yang tak mendapatkan petunjuk akan berkata, ‘Ini adalah kemunafikan yang nyata.’”

Baca Juga : Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 1


Kemudian, ada sebagian orang yang menentang puis-puisi cinta yang dilantunkan para sufi dalam halaqah mereka. Ketahuilah, para sufi yang sangat mencintai Allah SWT melantunkan puisi tentang pemisahan dari atau persekutuan dengan yang dicintai dimaksudkan untuk menjelaskan cinta mereka kepadaNya. Ungkapan puitis “lorong-lorong gelap” digunakan untuk menjelaskan gelapnya kekafiran; “pancaran wajah” untuk cahaya keimanan dan mabuknya sang sufi dalam kecintaan kepadaNya. Sebagai contoh, peri hatikanlah bait syair berikut:


Kau bisa takar beribu cangkir arak,
Namun, hingga kau reguk tandas tiada kenikmatan kau rasa
Maksudnya, kenikmatan sejati dalam beragama takkan bisa dirasakan hanya melalui pelaksanaan perintah, tetapi harus disertai ketertarikan dan hasrat hati. Orang boleh saja banyak berbicara dan menulis tentang cinta, iman, takwa, dan sebagainya, tetapi sebelum ia sendiri memiliki sifat-sifat ini, semuanya itu tak bermanfaat baginya. Jadi, orang yang mencari-cari kesalahan para sufi, karena melihat mereka begitu terpengaruh bahkan mencapai ekstase oleh bait-bait seperti itu hanyalah orang yang berpikiran dangkal dan tak toleran. Bahkan seekor unta pun kadang-kadang terpengaruh oleh dendang lagu Arab yang dinyanyikan penunggangnya sehingga ia berlari lebih kencang dan mampu memikul beban berat hingga tersungkur kelelahan. 

Baca Juga : Kisah Pemuda Penggali Kubur Menyetubuhi Jenazah

Tetapi berhati-hatilah jangan sampai keliru menerapkan syair yang dilantunkan para sufi kepada Allah. Jika kau salah, kau layak dikecam. Misalnya, saat mendengar ungkapan puitis mereka seperti “Kau berubah dari kecenderungan asalmu”, kau tak boleh menerapkannya untuk Allah yang mustahil berubah. Ungkapan seperti itu hanya cocok untuk dirimu, yang sering kali berubah tekad dan kecenderungan. Allah bagaikan mentari yang selalu bersinar, tetapi kadangkala dangan cahaya-Nya terhalang oleh berbagai hal yang ada antara kita dan Dia. 


Diriwayatkan bahwa beberapa sufi mencapai tingkatan ekstase sedemikian rupa sehingga mereka hilang dalam Allah. Itulah yang terjadi pada Syekh Abu Hasan Ali Nuri yang tersungkur ekstatik saat mendengar syair tertentu. Ia berlari cepat menerobos ladang tebu yang baru dipanen hingga kaki nya berdarah penuh luka dan tak lama setelah itu ajal menjemputnya. Dalam kasus seperti itu, sebagian orang bilang bahwa Tuhan telah benar-benar turun ke dalam manusia. Sungguh pendapat yang keliru! Jika kau beri pendapat seperti itu, kau tak ubahnya orang yang mengaku telah menyatu dengan cermin saat ia melihat bayangan dirinya di cermin, atau orang yang mengatakan bahwa warna merah atau putih yang dipantulkan cermin adalah sifat asli cermin itu. 


Ada beragam keadaan ekstatik yang dialami para sufi sesuai dengan emosi yang mendominasi mereka, seperti cinta, takut, nafsu, tobat, dan sebagainya. Keadaan spiritual seperti itu sering kali dicapai tidak hanya melalui lantunan ayat-ayat Alquran, tetapi juga melalui lantunan syair-syair romantis. Sebagian orang keberatan terhadap pembacaan syair pada kesempatan kesempatan seperti itu. Hanya Alquran yang layak dibacakan dalam aktivitas keagamaan. 



Tetapi mesti diingat bahwa tidak seluruh ayat Alquran dimaksudkan untuk membangkitkan emosi misalnya, perintah bahwa seorang laki-laki mesti mewariskan seperenam hartanya untuk ibunya dan seperduanya untuk saudara perempuannya, atau perintah bahwa seorang janda mesti menunggu empat bulan sebelum menikah lagi dengan orang lain. Sangat sedikit orang dan mesti orang yang sangat peka yang dapat tenggelam ekstatik mendengar lantunan ayat-ayat seperti itu. 

Alasan lain yang membenarkan pembacaan syair, selain ayat-ayat Alquran, dalam kesempatan-kesempatan seperti ini adalah bahwa orang-orang telah begitu akrab dengan Alquran, bahkan banyak orang yang hafal sehingga akibat terlalu sering diulang-ulang, pengaruhnya semakin lemah. Untuk membangkitkan emosi, seseorang tak mesti selalu mengutip ayat-ayat Alquran. Diriwayatkan bahwa suatu ketika beberapa orang Arab Badui begitu terpesona saat pertama kali mendengar pembacaan Alquran. Melihat keadaan mereka, Abu Bakar berkata, “Dulu kami pun seperti kalian, tetapi kini hati kami telah tumbuh begitu kuat.” Ungkapan itu menunjukkan bahwa pengaruh ayat-ayat Alquran terhadap orang yang telah akrab dengannya tidak sekuat yang dirasakan orang yang baru mendengarnya. Dengan alasan yang sama, Khalifah Umar biasa memerintah jemaah haji agar segera meninggalkan Makkah setelah menunaikan semua manasik haji. “Karena,” ujarnya, “aku khawatir, jika kalian terlalu akrab dengan Kota Suci itu, ketakjuban terhadapnya akan sirna dari hati kalian.” 


Ada pula sebagian orang yang secara sembrono mempergunakan nyanyian atau memainkan alat musik seperti seruling atau gendang untuk mengiringi pembacaan Alquran. Banyak orang yang menganggap perilaku itu tidak pantas. Memang, keagungan Al Quran tidak layak disandingkan dengan permainan. 



Diriwayatkan bahwa sekali waktu Nabi Mohammad  SAW. memasuki rumah Rabiah bint Mu‘adz. Beberapa orang gadis penyanyi, dengan maksud menghormati kedatangan Nabi, tiba-tiba bernyanyi riuh. Beliau segera meminta mereka berhenti, karena puji-pujian bagi Nabi adalah tema yang terlalu sakral untuk dimainkan seperti itu. Termasuk dalam kategori ini orang yang mempermainkan ayat-ayat Alquran sehingga dalam pikiran orang yang mendengarnya muncul penafsiran semau mereka. Di pihak lain, kita bisa bebas menafsirkan bait-bait syair yang kita dengar, karena makna yang diserap seseorang atas suatu syair tak harus sama dengan makna yang dimaksudkan penulisnya.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Spiritualitas dalam Musik dan Tarian | Bagian 2"

Post a Comment