Malam 17 Agustus 2019 pukul 23.00, kami semua berkumpul di padepokan , ada Mas diro, mas debleng, mang Ino, Mang Kumis, Pak Amin. Kami membicarakan tentang persiapan besok upacara 17 Agustus, kami pun membicarakan tentang sejarah kemerdekaan dan orang orang yang terlibat dalam perjuangan dan telah sahid.
“Assalamu alaikum , pada sehat semua” suara Abah terdengar menghentikan pembicaraan kami “wa alaikum salam, alhamdullilah kami sehat abah”
“Mang Kumis njenengan sehat” tanya Abah ke Mang Kumis,
“Tidak selamanya sakit abah” Jawab Mang Kumis, kami semua agak heran dengan jawaban Mang Kumis, tapi kami semua diam tidak berani bertanya atau mengingatkan Mang Kumis,
Sambil menyulut rokok jarum coklat abah melanjut “Aku sudah tua, umur ku sudah mendekati usia kanjeng rosul sampai wafatnya, “, kami mendengarkan dengan khidmat,
“Diantara kalian yang paling lama menemani aku adalah Mang Kumis, sampai aku lupa, berapa lama sudah Mang kamu menemani aku?” Tanya Abah ke Mang kumis,
“Sudah 40 tahun abah, bareng dengan abah” Jawab Mang Kumis.
“Alhamdullilah sampai aku lupa, begini mang, sudah banyak orang yang pernah bareng saya disini pada kembali ke kampungnya masing-masing, ada yang jadi Pengulu, ada yang mimpin tahlilan, ada yang ngurus anak-anak ngaji alif ba ta, tinggal tersisa kamu Mang, apalagi kalau dibanding dengan Ma s Diro, Mang Ino, Mas Udin, Debleng, apalagi dengan Slamet “, kami kaget sekali karena kami termasuk belum lama belajar ke Abah.
“Selama Empat Puluh Taun, njenengan menemani aku, belajar kepada ku, apa yang kamu dapatkan?” Tanya abah, “Jangan-jangan kamu hanya tidur disini, dan dapat hanya ilmu Ngetel”,
“Maaf Abah, saya selama 40 tahun dengan abah, mendapatkan Delapan Pengetahuan” Jawab Mang Kumis.
“Innalilahi wa inna ilahi rajiun, “ terlihat kaget dan penuh keheranan nampak dari raut muka abah, kami mendengar jawaban Mang Kumis kaget alang kepalang, sebab kami yang belum genap 5 taun sudah banyak mendapatkan pelajaran dan pengetahuan dari Abah, “lebih dari separoh umur ku bersama mu, namun njenengan hanya belajar delapan permasalahan”
“Maaf abah, saya tidak mempelajari selain delapan permasalahan atau pengetahuan, dan sungguh abah itu yang saya dapatkan” Mang Kumis berusaha meyakinkan Abah.
“Lalu, kalau apa yang kamu sampaikan padaku adalah benar bahwa selama ini hanya mendapatkan delapan permasalahan, dan benar yang delapan permasalahan telah kamu pelajari dan pahami, aku dan yang ada disini juga ingin mendengarnya” Pinta Abah ke Mang kumis.
Mang Kumis sambil tunduk “Maaf Abah, Saya melihat, “ Mang Kumis menghela nafas, kemudian “Saya melihat manusia, masing-masing dari mereka mencintai kekasihnya. Mereka bersama kekasihnya hingga sampai kubur, ketika ia sudah sampai kubur dan masuk ke dalam liang kubur, mereka yang dikasihi juga meninggalkan kubur dan membiarkan sendiri orang yang mencintainya.” Sambil mangut-manggut Abah mendengarkan yang disampaikan Mang Kumis, “Maka saya menjadikan amal-amal sholeh sebagai kekasih. Sehingga ketika kelak meninggal dunia, maka kekasih saya ikut masuk kekubur bersama saya”
“Bagus-bagus, Mang. Lalu apa yang kedua?” Abah menyahut apa yang disampaikan Mang Kumis.
Mang Kumis Melanjutkan “ Abah pernah menyampaikan sebuah firman Allah SWT,
Kurang lebih artinya yang saya terima “Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).”,
“Betul, itu betul bunyi dan artinya, itu ayat dalam surat AN Naziat 40-41” Tukas Abah, “Terus”
“Saya meyakini bahwa sesungguhnya Firman Allah Subhanahu wa ta’ala adalah benar. Maka saya ukir dipintu masuk kombongan dan saya memaksa nafsu saya untuk menolak hawa (kesenangannya), hingga nafsu saya tenang untuk taat kepada Allah ta’ala.”
“Yang ketiga” sambil menghela nafas Mang Kumis melanjutkan” Sungguh saya melihat banyak sekali orang yang memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, maka mereka berusaha mati-matian menjaganya dan mengangkat tinggi-tinggi apa yang dimiliki, kemudian aku ingat yang pernah Abah ajarkan
Yang artinya “Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Semoga benar itu ayat 96 surat An Nahl””
“Benar sekali itu Mang, lanjut “nampak muka Abah bahagia, lanjut Mang Kumis” Maka sejak itu saya ukir dipintu keluar kombongan dan sejak itupula setiap saya memiliki sesuatu yang bernilai dan berharga, maka saya hadapkan kepada Allah agar saya tetap terjaga di sisi-Nya”
“ Maaf Abah, dan sahabat-sahabat semua” Kata Mang Kumis “ Yang ke Emapat, Sungguh saya melihat banyak manusia dan dari masing-masing mereka bangga dengan harta dan membangga-banggakan harta yang dimiliki, membangga-bangakan keturunan mulia, meningikan kemulian dan nasab. Sehingga saya merenung, dan ternyata semua itu tidak ada artinya. Saya mendengar abah menyampaikan ayat ini
“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal..”, ada dalam QS Al Hujurat ayat 13, maka saya tulis dengan tinta emas di pintu lemari pakaian saya dan saya berusaha terus beramal taqwa berharap saya menjadi orang yang mulia di sisi Allah”
“Yang kelima, sungguh saya melihat banyak sekali manusia, sebagian dari mereka mencela sebagaian yang lain, dan sebagaian dari mereka melaknat sebagaian yang lain. Penyebab semua itu adalah sifat dengki. Saya ingat yang Abah sampaikan saat jalan-jalan kampung firman Allah Azza Wa Jalla
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Az-Zukhruf: 32)
“Maka saya tulis di pintu jendela kombongan dengan cat merah, dan sy berusaha dengan sekuat-kuatnya untuk meninggalkan sifat dengki dan juga menjauh dari sisi manusia. Saya yakin bahwa sesungguhnya pembagian sudah ada dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Maka saya berusaha terus untuk menghindari permusuhan dengan manusia.”
Nampak sekali wajah Abah semakin bahagia dan nampak terlihat air mata pun menetes, kami pun merasakan sesuatu yang luar biasa dari Mang Kumis yang selama ini kami agak kurang memperhatikan.
“Keenam, saya melihat manusia. Sebagian dari mereka berbuat zalim pada sebagian yang lain. Dan sebagian dari mereka memerangi sebagian yang lain. Saya masih teringat dan terngiang-ngiang apa yang Abah sampaikan saat mendamaikan orang kampung sebelah berkelahi, saat itu Abah sampaikan firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”(QS. Fathir: 6)
“Maka ketika saya pulang sampai dikombong saya tulis diatas cermin dan sejak saat itu saya berusaha terus hanya memusuhi setan saja. Dan aku berusaha sekuat tenaga waspada dan berhati-hati padanya. Karena sesungguhnya Allah ta’ala telah bersaksi bahwa sesungguhnya setan adalah musuh-Nya. Maka saya tidak memusuhi makhluk selain setan.”
“Maaf Abah “ kata mang Kumis, “Lanjut Mang, aku masih mendengarkan dan menyimaknya” kata abah ke mang kumis,
Mang Kumis pun melanjutkan “Yang ketujuh, saya melihat para manusia, masing-masing dari mereka mencari potongan roti, bungkusan nasi hingga ada yang menghinakan diri sendiri untuk mendapatkannya. Dan mereka terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak halal. Saya ingat betul apa yang abah sampaikan saat abah memberi makan burung merpati sambil berucap tentang firman allah ta’ala
“Oleh sebab itu saya tulis di dalam piring makan saya dan saya yakin bahwa sesungguhnya saya merupakan salah satu dari dawwab (makhluk hidup) ini yang ditanggung rezekinya oleh Allah. Maka saya berusaha menyibukan dengan apa yang menjadi hak Allah ta’ala atas diri saya, dan saya meninggalkan apa yang menjadi hak saya di sisi-Nya.”
“Yang kedelapan, saya melihat para manusia berpasrah diri dan bertawakkal kepada makhluk. Sebagian tawakkal pada gurunya atau penasehatnya, sebagian tawakal pada kebunnya, sebagaian lagi tawakkal pada dagangannya, sebagian lain tawakkal pada pekerjaannya, dan sebagian lain lagi mengandalkan kesehatan badannya, sebagian mengandalkan pada uang dan hartanya, sebagian lagi pada kekuasaan dan jabatannya. Semua makhluk tawakkal pada makhluk yang lain yang sama lemahnya, sama-sama tidak mampunya, saya ingat sekali apa yang abah ucapkan saat abah mengunjungi orang yang setres karena dicopot dari jabatnya, dan disita hartanya oleh pemerintah, waktu itu abah sampaikan firman Allah ta’ala:
“Maka sejak saat itu saya berusaha dengan maximal berserah diri kepada Allah azza wa jalla. Saya yakin Allah SWT lah Tuhan yang mencukupi saya dan saya pun tulis di sepeda yang yang diberikan ibu saat pertama kali berangkat ke sini.”
Dengan berkaca-kaca abah berdiri memeluk Mang Kumis, dan terlihat senyum penuh bahagia dan bangga sambil menepuk punggung mang kumis, “Mang, semoga Allah ta’ala memberi taufi1 padamu. Sesungguhnya aku melihat dan membaca di dalam kitab yang telah diturunkan Allah kepada rosulullah seperti Kitab Taurat, Injil, Jabur dan Al Quran Al Adhim. Aku menemukan seua jenis kebaikan dan ajaran agama. Semuanya berkutat pada delapan permasalahan ini, sehingga orang yang mengamalkannya, maka dia telah mengamalkan keempat kitabullah.
Semoga kita dapat mengambil kedelapan pelajaran penting ini Wallahu a’lam.
Terbis di atas balong
di tulis ulang tanggal 18 agustus 2019








0 Response to "Kamu Dapat Apa"
Post a Comment