Guru Wahdat bertutur di pesanggrahan Jumat 30 07 2019 - TERBIS

Guru Wahdat bertutur di pesanggrahan Jumat 30 07 2019

Guru Wahdat bertutur di pesanggrahan Al Amin :

Malam kamis, 30 07 2019

Hai Debleng, dahulukan akhirat atas dunia tentu kamu akan memperoleh laba dari keduanya. Bila dunia kamu dahulukan atas akhirat, niscaya kamu rugi secara menyeluruh, bahkan siksa menantimu. Mengapa kamu sibuk berurusan dengan sesuatu yang tidak diperintahkan melakukannya. Bila kamu tidak berambisi atas dunia niscaya Allah mengekalkan pertolongan-Nya, dan melimpahkan taufiq saat pencabutan kembali dunia itu. 

Hai Debleng...Jika kamu mengambil sesuatu dari dunia, sama artinya kamu sia-siakan barakah yang ada di sana. Orang mukmin itu, siaga beramal untuk dunia dan akhiratnya. Beramal untuk dunia menyampaikannya menurut kehendak yang dibutuhkan di sana. Terimalah dunia seperti bekal penumpang, kamu jangan sampai menariknya menurut sukamu. Orang dungu itu, setiap cita-citanya tertuju dunia, sedang orang arif setiap cita-citanya adalah untuk akhirat lalu menuju Tuhan. Bila kamu tarik kesenangan dunia sampai membumbung mencapai taraf nafsu atau syahwat, maka perhatikan sebentar siapa penguasa pencerai berai. Karena hal itu, tidak menguntungkamu, maka tahanlah nafsumu dan ajarilah dia di sisi Al-Haq. 

Hai Debleng...., orang yang benar (siddik) itu mengetahui ikatan di antara sesama mereka. Setiap individu di antara mereka mencium bau menerima dan kebenaran akhir. Wahai pencuri dari Allah dan orang-orang dari hamba-Nya, justru menghadap makhluk dan berserikat bersama mereka, sampai kapan kamu menghadap mereka? Cih, mereka bermanfaat bagimu. Di tangan mereka tidak mengandung nista atau manfaat juga tidak ada pemberi atau pencegah. Tiada pembeda antara mereka dan seluruh manusia jika dikaitkan dengan nista dan manfaat. Penguasa hanya satu, pelimpah nista hanya satu, penyampai manfaat ada satu, penggerak dan pendiam Cuma satu, pemberi dan pencegah juga satu. Dia Maha Pencipta dan Pelimpah Rizki dia adalah Allah Azza wa Jalla. Dia qadim lagi Azali untuk selamanya. Dia ada sebelum makhluk, sebelum nenek moyang mu atau orang-orang kaya di antaramu. Dia Maha Pencipta langit dan bumi dan segala keberadaan di dalamnya : “Tiada sesuatu pun serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Mahamelihat.” (Qs. XLII:11). 

Hai Debleng...., Apa kamu belum tahu proses penciptaanmu sebenarnya? Bagiku, jika di hari kiamat ada sesuatu dari Allah, tentu aku bawa segala beban dari awal sampai akhir cerita. Bacalah al Quran untuk Allah yang satu tanpa melibatkan penghuni langit atau bumi. Setiap orang beramal dengan amaliahnya maka terjadilah jalan tembus antara dia dan Allah; sebagai jalur hati untuk mencapai ke sana. Sedang kamu, selalu ribut dengan kata “menurut” (katanya) dan segala upayamu yang berupa harta. Padahal hal itu jika sampai ke tanganmu hanya berupa ilustrasi tanpa arti. Bila Allah menghendaki seorang hamba lebih baik ilmunya, untuknya suatu pengamal dan ikhlas. Ia dikabulkan sebagaimana pengabulan terhadap doa Musa a.s. Maka Dia berfirman kepada Musa a.s. :“Dan Aku telah memilih kamu untuk diri-Ku.” (Qs.Thoha : 41) 

Hai Debleng...., jangan kamu putus asa atas rakhmat Allah dan kekal bersama maksiat yang menyebabkan dosa besar, sucikan busana agamamu dari najis dengan air taubat, tetap bersama Dia dan ikhlas di samping-Nya. Takutilah tempat itu yang menempatkan dirimu, karena bagaimana pun dirimu berpaling sorot mata binatang buas tetap mengitarimu, penyakit terus menguntitmu – semua itu datang dari Dia – karena itu kembalilah kepada Allah sepenuh hati. Kamu jangan makan dari hasil buruk mu atau yang kamu peroleh dengan syahwat atau nafsu. Kamu jangan makan kecuali disertai dua saksi adil yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Kemudian carilah penyaksi lain saat dua penyaksi itu telah menyatu dalam hati. 

Hai Debleng...., Apabila dikumandangkan suara Kitab dan Sunnah, maka hatimu menanti bagian perempat; itu adalah perbuatan Allah. Kamu jangan seperti lentera malam yang memijari sekelilingnya sedang ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Inilah sesuatu yag tidak bisa diperoleh dengan Takhalli (mengosongkan jiwa dari sifat buruk), tamanni (meminta sesutau yang tidak mungkin diwujudkan), takalluf (bersusah payah melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya), dan tasni. Ia sesuatu beban dalam hati dan seddaqah perbuatanmu; yakni melakukan sesuatu pekerjaan yang bermotif kerana Allah semata. 

Hai Debleng....., sehat itu tergantung peninggalan mencari yang jernih. Kaya menurut peninggalan mencari kaya, dan pengobat menurut peninggalan mencari pengobat. Semua obat terletak dalam penyerahan diri di hadapan Allah, memutus causalita dan pengosongan diri dari tuhan-tuhan selain Tuhan Al-Haq. Terapi yang manjur terletak dalam pengesaan Allah menurut hati, bukan lisan. Tauhid dan zuhud keduanya tidak ada dalam tubuh atau lisan. Tauhid terletak dalam hati, zuhud di hati, ma’rifat di hati, takwa di hati, pengetahuan tentang Allah di hati, cinta Allah dalam hati dan dekat dengan-Nya juga dalam hati. Jadilah orang berakal, jangan main gila-gilaan, jangan berbuat macam-macam; dusta; riya dan munafiq. 

Hai Debleng..., Setiap cintamu kamu kurungi makhluk. Bila kamu tahu kala dirimu melangkah beserta hati menuju makhluk itu cukup memperjauh diri dari Allah. Kamu mengaku pencari Al-Haq, ternyata kamu pencari makhluk. Dirimu diperumpamakan orang berkata : Aku hendak pulang ke Cikawung dengan tujuan ke Cilacap, lalu kamu berangkat dari Cikawung. Kamu mengaku bahwa hatimu telah bebas dari makhluk yang mengikat, sedang kamu takut dan masih mengharap mereka. Lahiriah mu benci tapi batinmu senang mereka. Lahiriah mu bertemu Allah dan hatimu menjalin makhluk. Inilah perkataan yang tidak cukup hanya dengan pengakuan lisan. Inilah tingkah yang di dalamnya tidak terdapat makhluk, dunia, akhirat dan selain Allah. Dia Maha Satu tidak menerima kecuali satu. Dia satu tidak menerima sekutu, karena Dia sesungguhnya bertolak dengan ketentuanmu, dan terimalah ketentuan yang diterapkan untukmu. Semua makhluk lemah, ketentuan-Nya berlaku atas diri mereka. Kuasa Allah juga merata atasmu dan mereka. Goresan kalam dari ilmu-Nya – tentang sesuatu tetap berlaku untukmu dan mereka. 

Hai Debleng..., Peng-esa Allah yang lagi salih menjadi pertanda kebenaran Allah pada makhluk. Di antara mereka ada yang suka telanjang dunia dari sudut lahiriah maupun batiniah. Dan di antara mereka ada pula yang telanjang dunia hanya dari sudut batiniah saja. Allah tidak menampakkan dalam batiniah mereka sesuatu pun. Itulah hati orang-orang sholeh. Siapa mampu melakukan ketentuan ini, sungguh ia dipenguasakan dari makhluk. Dia pemberani menentang yang batil. As-Syaja (beranai tanpa rasa takut kepada siapapun kecuali Allah), adalah orang yang mensucikan hati selain Allah, kemudian tegar bertempat di pintu-Nya dengan pedang tauhid yang diliputi syari’at. Saat itu tiada satupun makhluk mampu menerobosnya untuk membangun hati dengan kegoncangannya. Syara’ mengajari lahiriah, tauhid dan ma’rifat sama-sama mengajari batiniah. 

Hai Debleng...., Alangkah jauh beda antara kata mereka dan kata kami; tentang sesuatu yang kembali. Kamu ucapkan ini haram, justru kamu pencetak dosa besar, dan halal sedang kamu tidak melakukan. Ternyata dirimu dalam kefusian yang amat. Nabi saw. bersabda :“Celaka bagi orang-orang bodoh sekali dan bagi orang-orang pintar sekali.” Suatu kecelakaan bagi orang bodoh, mengapa tidak mau belajar, dan tujuh kali kecelakaan orang berilmu. Ia berilmu tetapi tidak beramal, maka lenyaplah barakah ilmunya dan lepaslah tanda baginya. Berilmu lalu beramal dan mengasing dalam tempat pengasinganmu dari makhluk, kemudian memperbaiki cinta kepada Allah. Bilamana pengasingan dan cintamu bersih niscaya hal itu semakin memperdekatkan mu kepada Dia dan mengosongkan yang lain. Jika dikehendaki perbuatan tersebut mampu memasyhurkan atau memperharum namamu di hadapan makhluk, bahkan semakin menambah pembagian mu. 

Dengar dan camkanlah, hai Debleng, ahli pendungu, Allah beserta para wali-Nya. Kebenaran mutlak hanya Al-Haq Azza wa Jalla, sedang batil terletak padamu. Allah terletak di hati, rahasia dan al ma’ani. Sedang batil terletak pada nafsu hawa, tabiat tradisi, dunia dan apa saja selain Dia. Demikian hati, jaga sampai meperdekat pada Allah; yang Maha Qadim, azali lagi Abadi. Kamu jangan sarati dirimu melebihi bebanmu, wahai orang yang tidak sadar dirinya munafik. Yang ada di sisimu tidak lebih baik daripada ini. Kamu pengahamba makan, pakaian, kendaraan atau penguasaanmu. Hati orang benar (siddiqin) itu pergi dari makhluk menuju Al-Haq. Ulama” yang beramal dengan ilmunya itu mengganti para salaf. Mereka adalah pewaris Nabi dan pembenteng orang-orang yang berada di belakangnya. Mereka pemuka di hadapan mereka, memerintah untuk kebangkitan agama dalam pusat syari’at dan membentengi kehancurannya. Di hari kiamat mereka terkumpul bersama para Nabi, maka mereka dilimpahi pahala dari Allah. Tuhan membuat misal orang pandai (berilmu) yang tidak disertai amal laksana himar. Difirmankan : …………….Laksana himar yang memikul kitab-kitab.” Al-asfar adalah kitab-kitab. Bergunakah himar memikul setumpuk kitab? Ia tidak menghasilkan apapun kecuali lelah. Siapa bertambah ilmu seharusnsya bertambah takut serta patuh kepada Tuhan. Mana tangismu karena takut pada Allah? Dimana takut dan khatirmu? Mana kesadaranmu terhadap dosa-dosamu? Mana pertalianmu untuk menerangi kegelapan untuk berpatuh kepada Allah, mana pengajar nafsu dan pemberantasanmu padanya di hadapan Allah? 

Hai Debleng..., Cintamu hanya busana hidup, makan, kawin, kedai, kumpul bersama orang-orang ramai, dan menjalin mesra bersama mereka. Cukuplah cintamu seperti ini, kalaupun kamu dapat bagian tentu bermacam sesuatu itu mendatangimu menurut ketentuan waktunya, sedang hatimu santai dalam penantian dan loba yang berat tegar bersama Allah. Cahaya, kesunyianmu rusak, tidak suci dari najis dan tidak bersih. Duh..., kamu beramal dengan hati tapi di dalamnya tak ada tauhid serta ikhlas yang bersih. 

Hai debleng... si penidur, kamu jangan tidur untuk mereka, 
Hai Debleng.... si pemaling, kamu jangan berpaling dari mereka, 
Hai Debleng.... si pelupa kamu jangan lupa, 
Hai Debleng... si peninggal kamu jangan tinggalkan itu, 
Hai si pendungu kepada Allah dan Rasul-Nya, orang-orang dahulu dan sekarang, kamu laksana tonggak kayu yang panjang, ia tidak membuat kebaikan sesuatu pun. 

Ya Man huwa, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan selamatkanlah kami dari siksa neraka. 



Cikawung, Jumat 01-08-2019

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Guru Wahdat bertutur di pesanggrahan Jumat 30 07 2019"

Post a Comment