Aku Dungu, Gila dan Bodoh - TERBIS

Aku Dungu, Gila dan Bodoh

Suatu hari, Mas Debleng bertemu dengan orang seperti gila (al-majnuni murokkab) tak jauh dari makam seorang wali, ia berbicara tidak jelas seperti sedang bicara dengan seseorang. Dia berbicara seperti ini:. 


Aku Dungu, Gila dan Bodoh“Andaikan mereka tahu bahwa ada wali “tanpa nama tanpa gelar” yang memiliki kemampuan seperti wali Qutub, niscaya mereka akan datang berbondong-bondong mencium tangan wali tanpa nama tanpa gelar tersebut minta dido’akan hajatnya. Jika wali tanpa nama tanpa gelar itu telah wafat niscaya mereka akan berlama-lama dipekuburannya berdzikir, berdo’a dan bermuhasabah diri meminta ampun kepada Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa mereka selama ini. Andaikan mereka tahu jika mereka sami’na wa atho’na kepada wali tanpa nama tanpa gelar niscaya Allah SWT akan angkat derajatnya, Namun sayang sekali karena wali tersebut tanpa nama dan tanpa gelar kewalian, maka ia seringkali dilupakan dan diabaikan setiap orang” 

Mas Debleng yang mendengar omongannya kaget dan bergumam, “Halah? Ada wali tanpa nama tanpa gelar yang kemampuannya seperti wali Qutub ngarang ini orang? Sok tau, Siapakah wali tersebut?, masa jaman gini masih ada wali” 

Dengan sedikit rasa takut, Mas Debleng dekati dia karena penasaran ingin tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut? Lalu terjadi dialog: 

Mas Debleng : “Maaf Mbah, tadi saya dengar mbah berbicara panjang lebar dan berbicara tentang wali tanpa nama tanpa gelar, siapakah sebenarnya wali tersebut mbah? Mengapa sedemikian hebatnya wali tanpa nama tanpa gelar” tersebut hingga kemampuan dan derajatnya hampir menyamai wali Qutub? 

Orang seperti gila tersebut menoleh ke arah Mas Debleng dan matanya sedikit melotot lalu berkata: “Sampeyan siapa? Kamu nguping omongan ku yah? Apa pentingnya kamu perlu merasa tahu tentang wali tanpa nama tanpa gelar,” ucapnya dengan nada tinggi. Mendengar ucapan suaranya yang agak bernada tinggi terkesan kasar membuat Mas Debleng sedikit takut dan gemetar, 

“Maaf Mbah, bukan maksud saya menyinggung mbah, nama saya Debleng. Saya seorang muhibbin pecinta para wali-wali Allah. Kadang-kadang saya dan teman-teman seperti Diro, Huda, udin, sabik, Ahmad, Ino, berziarah ke makam para wali. Saya penasaran dan tertarik dengan wali tanpa nama tanpa gelar yang Mbah sebutkan, kalau boleh tahu siapakah wali tersebut mbah,” tany Mas Debleng kemudian, memberanikan diri. 

Orang seperti gila itu tertawa terbahak-bahak. “Ha ha ha ha ha…..dasar bocah goblog, namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar, tentu saja aku tidak tahu nama wali tersebut dan apa gelar kewaliannya. Kamu ini tampang keliatan pintar tapi ternyata goblog dan dungu, ha ha ha ha ha..” 

Terasa menusuk sekali perkataannya. Dia menyebut Mas Debleng anak bodoh, goblog, dungu, diborong semua, padahal dikampung Mas Debleng dinilai cerdas, kritis, pintar, dan luas wawasan serta pergaulannya. Wajah Mas Debleng merah padam menahan emosi. Sepertinya Mas Debleng salah sangka. Mas Debleng kira orang seperti gila tersebut orang yang bisa diajak dialog, tapi nyatanya dia sebut Mas Debleng anak bodoh, goblog, dungu. 

Mas Debleng memang anak bodoh, goblog, dungu. Namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar, jadi siapa yang tahu nama wali tersebut? Siapa yang tahu gelar wali tersebut sedangkan wali tersebut tanpa gelar?. Merasa tidak selevel Mas Debleng akan meninggalkan orang seperti gila tersebut. Mas Debleng pun mulai membalikkan badan dan membuang muka dengan wajah masam hendak meninggalkan orang seperti gila tersebut. 

“Hai Debleng, mau kemana sampeyan. Sampeyan ini bagaimana, sudah datang tidak mengucapkan salam, malah pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam. Baru diejek begitu saja sudah bermuka masam. Apakah mursyidmu yang seorang wali Qutub tidak mengajarkanmu untuk mengucapkan salam saat datang dan pergi? Apakah mursyidmu yang seorang wali tidak mengajarkanmu untuk bisa bersabar menahan celaan dan hina an?” 

Langkah Mas Debleng terhenti, “astaghfirullah! Betul sekali,” gumam Mas Debleng dalam hati tadi ia lupa mengucapkan salam sebelum memulai obrolan, dan Mas Debleng juga pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam. Dan tak sangka oleh Mas Debleng, dia menyebut mursyid Mas Debleng seorang wali Qutub, sepertinya dia mengenal mursyid Mas Debleng . 

Kemudian Mas Debleng kembali menghampirinya dan berkata “Assalammu’ alaikum wr. wb. mbah, mohon maaf mbah atas kelancangan saya karena datang dan pergi tanpa mengucapkan salam, sekali lagi saya mohon maaf” (sambil mencoba meraih tangannya untuk menyalami dan mencium tangannya). Tapi orang seperti gila itu menepis tangan Mas Debleng seraya berkata'”. Mas Debleng jadi salah tingkah. Tiba-tiba suasana hening sejenak beberapa menit. Mas Debleng diam seribu bahasa, yang biasanya selalu paling bisa ngeles dan bersilat lidah kali ini lidahnya kaku dan orang tua seperti gila itu pun diam. Suasana serasa seperti di kuburan, “ngapain kamu masih disini?” 

Tiba-tiba suaranya memecah keheningan. Mas Debleng kaget lalu berkata, “Maaf, anu mbah…anu”. Orang seperti gila itu menyela kalimat Mas Debleng , “anu … anu …. anu-anu apa? Ngomong yang jelas, jangan ngomong jorok, itu anu mu ada di situ gak kemana mana masih gantung, mau pamer 

Mas Debleng merasa muka nya remek dan pucat menahan malu, merasa salah tingkah dan bodoh dihadapan orang seperti gila tersebut, dan baru kali ini kemahiran dalam ngeles dan bersilat lidah rontok seperti macan tanpa taring. Dengan rasa sedikit menahan malu, Mas Debleng tetap memberanikan diri untuk bertanya, “maksud saya bukan anu mbah. Maksud saya adalah ingin tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah katakan saat saya mencuri dengar” 

Orang seperti gila bertanya, “kamu ini ternyata nggak pinter juga dan lebih banyak goblognya, sudah berapa lama kamu belajar tassawwuf dan ngaji hakekat?” 

Mas Debleng menjawab, “sudah sekitar hampir 7 tahun, mbah” 

Lalu orang seperti gila itu berkata sambil menepuk pahanya, “sudah 7 tahun masa kamu ora mudeng dan tidak tahu wali tanpa nama dan tanpa gelar, memangnya gurumu tidak ngasih tahu?” 

“Saya sering membaca dan mendengar suhbah dari guru saya mbah. tapi saya belum tahu dan belum pernah dengar ada wali tanpa nama dan tanpa gelar. Dan guru saya pun tidak pernah menyebutkan siapa wali tersebut,” jawab Mas Debleng . 

Orang seperti gila itu tertawa terkekeh-kekeh, “sebenarnya gurumu ada menyebutkannya bahkan berulang-ulang kali menyebutkannya. Hanya kamu saja yang yang tidak memperhatikan dan tidak paham atas maksud gurumu. Lagipula sebutannya wali tanpa nama dan tanpa gelar, jelas gurumu tidak tahu nama wali tersebut dan tidak tahu gelar wali tersebut tapi kamu sendiri tahu siapa wali tersebut, bahkan wali tersebut begitu dekat denganmu”. 

Mas Debleng bergumam dalam hati, “Apaaa aku mengenal wali tersebut? Siapa dia?” 

“Maaf mbah, siapakah yang mbah maksud?” Mas Debleng bertanya pada orang yang seperti gila, “Mbah katakan bahwa aku mengenal wali tanpa nama dan tanpa gelar tersebut, bahkan mbah mengatakan wali tersebut dekat denganku, siapakah yang mbah maksud?” 

Orang seperti gila itu lagi-lagi tertawa terkekeh-kekeh, “he .. he … he … wali tanpa nama dan tanpa gelar itu adalah orang tuamu sendiri. Nah sekarang aku tanya kamu, memangnya kamu kenalkan dan sebutkan nama orang tua mu pada ku, dan manamungkin aku kenal siapa nama orangtuamu dan gelar orangtuamu? Wong kamu juga gak ngasih tau, bener gak bleng, mana aku tahu” orang tua seperti gila tersebut bertanya pada Mas Debleng. 

Mas Debleng jadi tambah bingung lalu bertanya-tanya, “Orang tua ku wali ?”,Kemudian Mas debleng bertanya kembali , “maksud Mbah orang tua tau adalah wali tanpa nama dan tanpa gelar? Wong sholatnya biasa, wiridnya juga biasa-biasa, amal ibdahnya biasa-biasa tidak ada kelebihannya. Mengapa bisa begitu mbah?” 

Orang seperti gila itu mulai menatap mat Mas Debleng dengan tajam, lalu bangkit dari duduknya lalu berkata: 

“Dasar goblog, dungu, dan tidak tau berterima kasih, Apakah kau tidak tahu tentang Uwaisy al Qarni, salah satu sahabat yang tidak pernah bertemu kanjeng Rosul Mohammad secara fisik dan beliau adalah juga seorang wali? Apa yang menyebabkan dia memiliki derajat yang begitu agung hingga namanya terkenal di langit walau di bumi tak ada seorang pun mengenalnya? Kau tahu!! Sahabat Uwaisy al Qarni berkata bahwa ibunya pernah berkata dan mendo’akannya ‘anakku Uwaisy aku tahu hatimu begitu sangat mencintai dan menginginkan dapat bertemu makhluk paling mulia dimuka bumi ini, yakni Baginda Rosulullah Muhammad SAW, namun kini kau datang dan kembali pada ku dengan wajah dirundung sedih karena tak berhasil menemui Baginda Rosulullah Muhammad SAW dan kau memilih segera pulang karena memikirkan dan mengkhawatirkan kondisi ku, ibumu ini, Nak, dan aku ibu mu ridho padamu, Ya Allah, Kau Maha Tahu, saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah ridha pada anakku, maka terimalah ridhoku ya Allah dan ridhoilah anak ku Uwaisy‘. 

Kemudian orang tua seperti gila tersebut menarik nafas dalam-dalam seperti hendak menangis, kemudian melanjutkan omongannya, “Dan apa kau tidak kau tahu bahwa Sulthanul Aulya Syeikh Abdul Qadir Jailani di masa kecilnya ketika dirampok malah berkata jujur tentang kantung emas yang ia bawa, perampok itu heran mengapa ia malah jujur mengatakan kantung emas yang dibawanya pada permapok padahal setiap orang yang mereka rampok selalu berbohong tentang bawaannya dan berusaha menyembunyikannya dari mereka, lalu kau tahu apa kata Syeikh Abdul Qadir Jailani? beliau berkata ‘ketika Syeikh Abdul Qadir Jailani hendak bepergian menuntut ilmu, ibunya berpesan, “ anakku, bila engkau bertemu dengan siapa pun, maka jujurlah jangan berbohong, sungguh ibu lebih ridho bila engkau jujur sekalipun engkau harus kehilangan harta dan perbekalanmu, termasuk nyawa mu, daripada kau harus kehilangan kejujuranmu”. 

Mas Debleng tersentak kaget, wajahnya mulai pucat pasi. Teringat olehnya salah satu hadist yang menyatakan bahwa kita harus berbuat baik dan berbakti pada orangtua kita sendiri. Bahkan Baginda Rosulullah Muhammad SAW sampai tiga kali menyebut kata, “ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu”. 

Tak disangka, ternyata Mas Debleng tertipu oleh nafsu dan egonya sendiri hingga Mas Debleng tak tahu bahwa selama ini wali tanpa nama yang memiliki kemampuan layaknya wali Qutub adalah orang tuanya sendiri. 

Lalu orang seperti gila berkata lagi: 

“Lihatlah ibumu, berapa lama dia menanggung dan menggendong kemana-kemana dirimu dalam perutnya? Apakah kamu sanggup menahan perih dan pedih seperti dirinya hanya untuk menginginkan kamu lahir di dunia hingga bertaruh nyawa agar kamu terlahir sehat dan selamat? Bahkan ketika dalam kondisi darurat ia lebih rela menerima kematian agar kamu tetap hidup, apakah kamu pernah memikirkan hal ini? Kekuatan apa yang membuat ibumu sekuat dan setabah itu sebagaimana kekuatan awliya yang sanggup menerima dan menanggung beban yang berat? Itu kekuatan Allah SWT yang dianugerahkan kepada ibumu melalui Rahman dan Rahim-nya. Ini adalah sumber kekuatan para auliya”. 

Mas Debleng diam seribu bahasa, rasa hatinya ingin menangis sejadi-jadinya, Mas Debleng serasa disambar petir, serasa dihakimi dalam hari perhitungan . 

Lalu orang seperti gila itu berkata lagi dan lagi, “kamu bangga dan takjub dengan karomah para wali tapi pernahkah kamu banggakan dan takjub dengan karomah ibumu yang Allah SWT anugerahkan kepada ibu mu? Pernahkah kamu bangga dan takjub dengan karomah ibumu yang mengajarkan berkata-kata ketika masih bayi? Tidurnya sedikit karena kamu selalu nangis dan rewel sebagaimana para auliya yang tidurnya sedikit karena memikirkan umat Baginda Rosulullah Muhammad SAW yang banyak berkeluh kesah dan merengek, air susunya seakan-akan tak pernah habis setiap kali kau merengek ingin netek, apakah kamu tak tahu kalau itu adalah bukti karomah ibumu? Tidakkah kamu pernah mendengar kalimat ini: “Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain” Ridho Allah terletak pada ridho kedua orangtua kemurkaan Allah terletak pada kemarahan kedua orangtua, Ya Allah yang maha pemurah, ampunilah dosa-dosa kami, keluarga dan orang tua kami.” Para auliya, mereka menjadi wali Qutub dikarenakan ridho dari orangtua mereka. Tidakkah kamu sadar bahwa doa dan harapan kedua orangtuamu hampir setara dengan wali Qutub?” 

“Astaghfirullah,” Mas Debleng berucap dalam hati, ia teringat beberapa waktu lalu telah melakukan kesalahan pada orang tuanya, Mas Debleng mendengar omongan orang seperti gila tersebut seakan petir menyambar sekujur tubuhku. Badannya terasa lemasa dan tak berdaya, ia menangis dan menenggelamkan wajahnya sujud sambil terus berucap “astagfirullah hal adhiem, astagfirullah hal adhiem, astagfirullah hal adhiem” air mata Mas Debleng mengalir deras suara tangis memohon ampunan terus tak henti-henti dari bibir yang sebelumnya selalu ngeles dan bersilat lidah. 

Orang seperti gila itu berdiri lalu berkata sambil menunjuk ke arah Mas Debleng, “lihat dirimu, kelak kamu akan jadi seorang bapak, apakah kau tahu karomah bapakmu selama ini? Lihat tangannya, lihat punggungnya, lihat kulitnya, lihat jari-jarinya, lihat sorot matanya, setiap hari ia membanting tulang agar kau tetap bisa makan, tetap bisa tertawa, tetap tersenyum, bekerja siang dan malam hanya untuk mengabulkan segala macam keinginan dan rengekan mu. Ketika kau kecil, dirimu melakukan berbagai kesalahan, dialah orang yang paling depan membelamu. Ketika kau dalam bahaya, dia rela menghadapi bahaya itu untuk menyelamatkanmu, dia tanggung bebanmu dan ibumu di pundaknya, walau kian rapuh, dia tetap berusaha menopang. Tidakkah kamu sadari bahwa bapakmu itu seorang Mujahid fi Sabilillah? Yang setiap hari berjuang menafkahi kehidupanmu bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun. Dia, bapakmu adalah mujahidin kebanggaanmu”. 

“Ya Rabb,” suara lirih kembali terdengar dari mulut Mas Debleng. 

Mas Debleng merasa seperti hancur lebur mendengar nasehat orang seperti gila tersebut. Bahkan ternyata selama ini Mas Debleng yang gila, dungu dan bodoh, bukan dia. Mas Debleng melupakan siapa sesungguhnya orang tuanya sendiri. Mas Debleng melupakan semua yang telah diberikan orang tua nya tanpa pamrih dengan penuh kasih sayang. Bahkan Mas Debleng sering takjub akan pesona dan karomah wali yang lain akan tetapi Mas Debleng tak pernah sadar dengan orang tua Mas Debleng sendiri yang merupakan wali tanpa nama dan tanpa gelar kewalian, yang derajat kewaliannya selevel dengan wali Qutub 

Sesaat kemudian, orang seperti gila itu berlalu meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Mas Debleng mengikuti dia dari belakang dengan lantkah gontai karena masih lemas, Mas Debleng ingin tahu ke mana dia pergi. Ternyata dia mendatangi dua gundukan tanah, dan dia duduk di sana. 

Mulutnya komat kamit membaca doa kemudian berkata dengan bahasa daerah, Mas Debleng tidak tahu apa makna yang dia ucapkan, kemudian dia tertawa terbahak-bahak sambil senyum-senyum di hadapan dua gundukan tanah yang ternyata itu tanah kuburan, sesekali terdengar isakan. 

Mas Debleng tak tahu kuburan siapa itu, namun Mas Debleng berhusnudzon mungkin itu kuburan seorang wali besar, karena dari doa dan bahasa yang keluar dari mulutnya orang seperti gila itu sepertinya dia tahu betul tentang wali. Jadi Mas Debleng berpikir, itu kuburan seorang wali. 

Tiba-tiba, setelah selesai tertawa, dia diam, suasana menjadi hening. Kemudian Ma Debleng melihat dia mulai menangis, meneteskan ai rmata dengan suara terisak-isak. Tangisan begitu pilu sampai serasa menyayat seperti sembilu menyata hati Mas Debleng, tak terasa Mas Debleng pun turut meneteskan air mata dan menangis. 

Mas Debleng tak tahu apa yang diucapkannya dalam logat daerah. Ucapannya seperti sedang curhat pada kuburan tersebut sambil tangannya mengelus-elus kuburan itu. Tangisan kian jadi bahkan meraung. Mas Debleng sedih bercampur bingung karena tak mengerti dengan bahasa yang diucapkannya, namun akhirnya Mas Debleng mengerti mengapa dia meraung-raung menangis di kuburan yang kusangkakan seorang wali. 

Di tengah isak tangisnya, Mas Debleng mendengar dia mengucapkan kalimat “Mae, ..., mae …, mae”, lalu pada kuburan yang sebelahnya dia berkata “pak, ...…”. Mas Debleng menangis sejadi-jadinya dia ingat ibunya, dia ingat bapaknya. Ternyata itu kuburan orangtuanya. Ternyata, itu kuburan seorang wali tanpa nama tanpa gelar. 

Kini Mas Debleng baru paham mengapa orang-orang mulai menganggap gila. Sebab dia sering tertawa, menangis, meraung dan bercakap-cakap sendiri di kuburan. Seandainya Mas Debleng jadi dia, mungkin Mas Debleng akan sama dengannya, menjadi gila karena ditinggal pergi oleh kedua orang yang paling disayangi. 

Mas Debleng membalikkan badannya, bergegas ingin pulang ke kampung untuk menemui kedua orang tuanya. 

Kita yang masih beruntung masih memiliki wali tanpa nama tanpa gelar yang masih hidup. 

Sepanjang jalan Mas Debleng berdoa, allahumma firlana dzunubanna waliwalidayya warhamhumma kama robbaya nishagiro

Dalam perjalanan pulang dia pun ingat pernah bertengkar dan melawan kepada kedua orang tuanya dulu. Saat ini Mas Debleng sadar mereka berdua adalah wali tanpa nama tanpa gelar, Mas Debleng akhirnya berubah dia selalu duduk dibawah kedua orang tuanya, dia selalu banggakan orang tuanya, dia tidak pernah mau makan sebelum orang tuanya makan, dia tidak pernah berani selalu berjalan dibelakang orang tuanya dengan sangat merendah, suaranya semakin kecil ketika bicara dengan orang tuanya, dia tidak pernah mendahului orang tuanya bicara, dia selalu meminta izin dan mohon maaf apapun yang dia lakukan kepada orang tuanya, dia tidak pernah pergi sbelum dapat izin dari orang tuanya. Tanpa mereka, Mas Debleng bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Mas Debleng bersyukur, kesadarannya datang sebelum kedua orang tuanya meninggalkannya. Buat teman-temanku, jika “wali tanpa nama tanpa gelar”mu telah tiada, kunjungilah mereka. 



Cikawung, 30 Juli 2019, 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Dungu, Gila dan Bodoh"

Post a Comment