Jenis-Jenis Maqamat Dalam Dunia Sufi Bagian 1 (satu) - TERBIS

Jenis-Jenis Maqamat Dalam Dunia Sufi Bagian 1 (satu)

MAQAMAT


Secara harfiah, maqamat merupakan jamak dari kata maqam yang berarti tempat berpijak atau pangkat mulia. Dalam Bahasa Inggris maqamat dikenal dengan istilah stages yang berarti tangga. Sedangkan dalam ilmu Tasawuf, maqamat berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakan, baik melalui riyadhah, ibadah, maupun mujahadah. Di samping itu, maqamat berarti jalan panjang atau fase-fase yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah. Maqam dilalui seorang hamba melalui usaha yang sungguh-sungguh dalam melakukan sejumlah kewajiban yang harus ditempuh dalam jangka waktu tertentu. Seorang hamba tidak akan mencapai maqam berikutnya sebelum menyempurnakan maqam sebelumnya. 

Banyak para sufi yang mengeluarkan beberapa pendapat tentang Maqamat ini. Contohnya Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya al-Ta’arruf li Mazhab ahl al-Tasawwuf, sebagai dikutip Harun Nasution misalnya mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya ada sepuluh, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-shabr, al-faqr, al-tawadlu’, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah dan al-ma’rifah.


1. Maqam Taubat


Berasal dari Bahasa Arab taba-yatubu-taubatan yang berarti “kembali” dan “penyelesalan”. Sedangkan pengertian taubat bagi kalangan sufi adalah memohon ampun atas segala dosa yang disertai dengan penyesalan dan berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut dan dibarengi dengan melakukan kebajikan yang dianjurkan oleh Allah. 

Taubat menurut Dzun Nun al-Misri dibedakan menjadi tiga tingkatan: 

(1) orang yang bertaubat dari dosa dan keburukan, 
(2) orang yang bertaubat dari kelalaian mengingat Allah dan 
(3) orang yang bertaubat karena memandang kebaikan dan ketaatannya. 

Dari ketiga tingkatan taubat tersebut, yang dimaksud sebagai maqam dalam tasawuf adalah upaya taubat, karena merasakan kenikmatan batin. 



Bagi orang awam, taubat dilakukan dengan membaca astagfirullah wa atubu ilaihi. Sedangkan bagi orang khawash taubat dilakukan dengan riyadhah dan mujahadah dalam rangka membuka hijab yang membatasi dirinya dengan Allah swt. Taubat ini dilakukan para sufi hingga mampu menggapai maqam yang lebih tinggi. Lain halnya dengan Ibnu Taimiyah. Ia membedakan taubat menjadi dua: taubat wajib dan taubat sunnah. Taubat wajib adalah taubat karena menyesali perbuatan meninggalkan perkara-perkara wajib, atau menyesal karena melakukan perkara-perkara haram. Sedangkan taubat sunnah adalah taubat karena menyesali perbuatan meninggalkan perkara-perkara sunnah, atau karena menyesali perbuatan melakukan perkara-perkara makruh. Berkaitan dengan dua macam taubat ini, Ibnu Taimiyah menjelaskan tingkatan/derajat orang yang bertaubat menjadi dua. Pertama, al-abrar al-muqtashidun (orang-orang yang berbakti lagi pertengahan), yaitu orang-orang yang melakukan jenis taubat yang pertama, yaitu taubat wajib. Kedua, as-sabiqun al-awwalun. Mereka adalah orang yang melakukan jenis taubat wajib dan taubat sunnah. 

2. Maqam Wara’ 


Dalam risalah al-qusyairiyah banyak membahas tentang makam wara’ beserta pandangan atau rumusan para sufi tentang hal ini. Wara’ adalah meninggalkan hal yang syubhat: tarku syubhat yakni menjauhi atau meninggalkan segala hal yang belum jelas haram dan halalnya. Abu bakar as-shiddiq mengatakan “Kami tinggalkan tujuh puluh pintu menuju yang halal lantaran takut jatuh pada satu pintu menuju haram”. Wara’ memang salah-satu sendi etika islam yang sangat penting, oleh karena itu nabi bersabda yang artinya “Ibadah itu sepuluh suku, Sembilan dari padanya dalam mencari halal”. 

Jadi Sembilan persepuluh dari ibadah adalah mencari halal. Pada hadist lain nabi bersabda yang artinya : “Hendaknya kamu menjalankan laku wara’, agar kamu jadi ahli ibadah”. 

Laku hidup wara’ memang penting bagi perkembangan mentalitas ke-islaman, apalagi bagi tasawuf. Dalam tasawuf wara’ merupakan langkah kedua sesudah taubat, dan disamping merupakan pembinaan mentalitas (akhlak) juga merukan tangga awal untuk membersihkan hati dari ikatan keduniaan. 

Wara’ itu ada dua tingkat, wara’ segi lahir yaitu hendaklah kamu tidak bergerak terkecuali untuk ibadah kepada Allah. Dan wara’ batin, yakni agar tidak masuk dalam hatimu terkecuali Allah ta’ala. Wara’ adalah meninggalkan setiap yang berbau syubhat dan meninggalkan apa yang tidak perlu, yaitu meninggalkan berbagai macam kesenangan


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jenis-Jenis Maqamat Dalam Dunia Sufi Bagian 1 (satu)"

Post a Comment